
Belakangan ini, bisnis terkait akar bajakah di Kalimantan Selatan (Kalsel) semakin menjamur. Fenomena ini memicu keresahan dari berbagai pihak, termasuk Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel. Mereka menyoroti potensi dampak negatif yang bisa timbul jika eksploitasi tanaman ini tidak dikelola dengan bijak.
Akar bajakah, yang dikenal memiliki khasiat obat tradisional, kini menjadi komoditas yang banyak diburu. Lonjakan permintaan pasar mendorong banyak orang untuk terlibat dalam bisnis ini, mulai dari pengumpul hingga pedagang. Namun, di balik gemerlapnya peluang ekonomi, ada kekhawatiran serius mengenai keberlanjutan sumber daya alam dan ekosistem.
Walhi Kalsel menegaskan bahwa pengambilan akar bajakah secara berlebihan tanpa memperhatikan aspek konservasi dapat mengancam kelestarian tanaman tersebut di habitat aslinya. Mereka mengingatkan bahwa jika tidak ada pengawasan yang ketat, bukan tidak mungkin populasi bajakah akan menurun drastis, bahkan punah di beberapa wilayah.
Organisasi lingkungan ini mendesak pemerintah daerah dan pihak terkait untuk segera mengambil langkah konkret. Beberapa rekomendasi yang disampaikan antara lain perlunya regulasi yang jelas mengenai tata cara pemanenan, kuota pengambilan, serta upaya budidaya agar tidak sepenuhnya bergantung pada alam liar.
Selain itu, Walhi juga mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam memanfaatkan sumber daya hutan. Mereka berharap agar bisnis akar bajakah tidak hanya berorientasi pada keuntungan jangka pendek, tetapi juga mempertimbangkan kelestarian lingkungan untuk generasi mendatang.
