Fenomena Kayu Bajakah: Mengapa Begitu Banyak Penelitian Obat Hanya Berakhir di Jurnal Ilmiah?

Home blog Fenomena Kayu Bajakah: Mengapa Begitu Banyak Penelitian Obat Hanya Berakhir di Jurnal Ilmiah?
Fenomena Kayu Bajakah: Mengapa Begitu Banyak Penelitian Obat Hanya Berakhir di Jurnal Ilmiah?
Fenomena Kayu Bajakah: Mengapa Begitu Banyak Penelitian Obat Hanya Berakhir di Jurnal Ilmiah?

Belum lama ini, publik dihebohkan oleh klaim khasiat kayu bajakah sebagai pengobatan alternatif. Namun, di balik hiruk-pikuk tersebut, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa begitu banyak riset obat di Indonesia hanya berhenti di tahap publikasi jurnal dan tidak pernah berlanjut hingga menjadi produk nyata yang bisa dinikmati masyarakat?

Fenomena ini bukanlah hal baru. Banyak peneliti di tanah air yang telah menghasilkan temuan menjanjikan, namun hasil kerja keras mereka seolah ‘mangkrak’ alias terhenti begitu saja setelah artikel ilmiah diterbitkan. Padahal, publikasi di jurnal hanyalah langkah awal dari proses panjang pengembangan obat.

Hambatan dari Laboratorium ke Apotek

Proses mengubah temuan ilmiah menjadi obat yang aman dan efektif memerlukan tahapan yang kompleks dan mahal. Mulai dari uji praklinis, uji klinis tahap awal hingga akhir, hingga proses perizinan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Setiap tahap ini membutuhkan investasi waktu dan dana yang tidak sedikit.

Sayangnya, pendanaan riset di Indonesia seringkali hanya mencukupi untuk penelitian dasar dan publikasi. Dana untuk uji klinis lanjutan, yang bisa memakan biaya miliaran rupiah, sangat terbatas. Akibatnya, banyak temuan potensial ‘tertidur’ di perpustakaan jurnal ilmiah.

Kurangnya Kolaborasi dengan Industri

Faktor lain yang tak kalah penting adalah minimnya jembatan antara akademisi dan dunia industri. Perusahaan farmasi lebih cenderung mengembangkan obat yang sudah memiliki paten jelas dan potensi pasar besar. Sementara itu, riset dari perguruan tinggi seringkali masih bersifat dasar dan belum siap untuk dikomersialisasikan.

Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan dukungan kebijakan yang mendorong hilirisasi riset, peningkatan anggaran untuk uji klinis, serta kemitraan strategis antara universitas, pemerintah, dan sektor swasta. Dengan begitu, temuan seperti kayu bajakah tidak hanya menjadi berita heboh sesaat, tetapi benar-benar dapat memberikan manfaat bagi kesehatan masyarakat luas.

Fenomena Kayu Bajakah: Mengapa Begitu Banyak Penelitian Obat Hanya Berakhir di Jurnal Ilmiah?
Fenomena Kayu Bajakah: Mengapa Begitu Banyak Penelitian Obat Hanya Berakhir di Jurnal Ilmiah?