
Masih ingat dengan hebohnya akar bajakah pada tahun 2019? Kala itu, tanaman asli Kalimantan ini menjadi primadona karena diklaim memiliki khasiat luar biasa. Tak heran, banyak orang dari berbagai daerah berduyun-duyun datang ke Kalimantan Tengah untuk mencari dan mendapatkan tanaman tersebut.
Fenomena booming akar bajakah memang sempat menyita perhatian publik. Tanaman yang dikenal dengan nama ilmiah Spatholobus littoralis ini dipercaya memiliki kemampuan untuk menyembuhkan berbagai penyakit, termasuk kanker. Klaim ini membuat permintaan terhadap akar bajakah melonjak drastis, sehingga mendorong banyak orang untuk melakukan perjalanan ke Kalteng.
Sayangnya, popularitas yang melonjak ini juga diikuti dengan berbagai dampak. Banyak pihak yang mengkhawatirkan eksploitasi berlebihan terhadap tanaman ini. Padahal, akar bajakah tumbuh di hutan-hutan Kalimantan dan membutuhkan waktu lama untuk bisa dipanen secara lestari. Oleh karena itu, para ahli dan pegiat lingkungan mengingatkan pentingnya menjaga keberlanjutan alam.
Kini, beberapa tahun berselang, fenomena akar bajakah mulai mereda. Namun, pengalaman ini menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana antusiasme publik terhadap klaim kesehatan dapat memicu pergerakan massal ke suatu daerah. Pemerintah setempat pun diharapkan bisa lebih bijak dalam mengelola potensi sumber daya alam agar tidak menjadi bola liar yang merugikan lingkungan dan masyarakat.
