
Akar bajakah, tanaman yang berasal dari hutan Kalimantan, kini tengah menjadi sorotan karena potensinya sebagai obat kanker. Namun, perjalanan untuk menjadikannya obat yang sah dan aman tidaklah singkat. Para peneliti harus melalui berbagai fase penelitian yang ketat untuk memastikan khasiat dan keamanannya.
Fase Penelitian yang Harus Dilalui
Menurut sumber dari Kompas.com, proses pengembangan akar bajakah menjadi obat kanker harus melewati beberapa tahapan penting. Pertama, dilakukan uji praklinis untuk menguji efek antikankernya pada sel kanker di laboratorium. Jika hasilnya menjanjikan, langkah selanjutnya adalah uji klinis pada manusia yang terbagi menjadi tiga fase.
Fase 1: Uji Keamanan Dosis
Pada fase pertama, sejumlah kecil sukarelawan sehat diberikan dosis akar bajakah untuk menentukan dosis aman dan efek samping yang mungkin timbul.
Fase 2: Uji Efektivitas Awal
Fase kedua melibatkan lebih banyak pasien kanker untuk melihat apakah akar bajakah benar-benar efektif melawan kanker dan untuk memantau lebih lanjut efek sampingnya.
Fase 3: Uji Perbandingan
Fase ketiga membandingkan efektivitas akar bajakah dengan pengobatan standar yang ada saat ini. Ini adalah tahap kritis untuk menentukan apakah akar bajakah layak digunakan sebagai obat.
Menanti Persetujuan BPOM
Setelah semua fase uji klinis selesai, data akan dikumpulkan dan dievaluasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Jika dinyatakan aman dan efektif, barulah akar bajakah bisa dipasarkan sebagai obat kanker resmi.
Proses ini memakan waktu bertahun-tahun dan membutuhkan investasi yang besar. Namun, langkah ini penting untuk melindungi masyarakat dari klaim berlebihan dan memastikan bahwa obat yang dikonsumsi benar-benar bermanfaat.
