
Setelah ramai diperbincangkan soal tanaman bajakah yang disebut-sebut bisa menjadi obat kanker, berbagai pihak mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah perlindungan terhadap habitat asli tumbuhan tersebut. Kekhawatiran akan eksploitasi berlebihan dan kerusakan lingkungan menjadi alasan utama di balik seruan ini.
Tanaman bajakah, yang sebelumnya tidak banyak dikenal publik, mendadak populer setelah klaim khasiatnya sebagai pengobatan kanker menyebar luas. Namun, di tengah antusiasme masyarakat, pakar konservasi mengingatkan bahwa habitat alami bajakah di hutan-hutan Indonesia perlu dijaga agar tidak punah atau rusak akibat pengambilan yang tidak terkendali.
Desakan kepada pemerintah mencakup permintaan untuk menetapkan kawasan konservasi khusus bagi tanaman ini, serta mengatur mekanisme pengambilan dan budidayanya. Langkah ini diharapkan dapat memastikan keberlanjutan sumber daya alam sekaligus membuka peluang penelitian lebih lanjut mengenai manfaat medisnya.
Tanpa perlindungan yang memadai, dikhawatirkan tanaman bajakah bisa mengalami nasib serupa dengan spesies lain yang terancam punah akibat eksploitasi berlebihan. Oleh karena itu, koordinasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat adat menjadi kunci dalam menjaga kelestariannya.
