
Bagi masyarakat Kalimantan, akar bajakah bukanlah tanaman sembarangan. Tumbuhan merambat yang satu ini telah lama dikenal dalam pengobatan tradisional, terutama karena klaimnya sebagai obat kanker. Namun, kepercayaan terhadap khasiat akar bajakah ternyata melampaui itu.
Sejak viralnya penelitian awal yang menunjukkan potensi akar bajakah sebagai antikanker, popularitasnya meroket. Masyarakat berbondong-bondong mencari dan mengonsumsinya, berharap mendapatkan kesembuhan. Namun, para ahli mengingatkan bahwa klaim tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut dan belum bisa disamakan dengan pengobatan medis konvensional.
Lebih dari Sekadar Antikanker
Dalam catatan etnobotani suku Dayak, bajakah telah digunakan untuk mengatasi berbagai keluhan kesehatan. Beberapa di antaranya adalah sebagai obat untuk mengatasi gangguan pencernaan, meningkatkan stamina, hingga mempercepat penyembuhan luka. Kandungan senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, dan saponin diyakini menjadi kunci dari beragam manfaat ini.
Flavonoid yang terkandung dalam akar bajakah dikenal sebagai antioksidan kuat yang mampu menangkal radikal bebas. Sementara itu, tanin bersifat antiinflamasi dan antimikroba. Kombinasi inilah yang membuat akar bajakah dipercaya dapat membantu memelihara kesehatan secara menyeluruh, bukan hanya sebagai terapi spesifik untuk kanker.
Antara Tradisi dan Sains Modern
Meskipun kisah sukses pengguna tradisional terus beredar, dunia kedokteran tetap membutuhkan bukti ilmiah yang ketat. Penelitian tentang bajakah masih dalam tahap awal, terutama pada uji laboratorium dan hewan. Belum ada uji klinis pada manusia yang dipublikasikan secara luas.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk bersikap bijak. Alih-alih meninggalkan pengobatan dokter, akar bajakah sebaiknya dipandang sebagai suplemen pendukung. Konsultasi dengan tenaga medis profesional tetap diperlukan, terutama bagi pasien yang sedang menjalani kemoterapi atau terapi lainnya.
Pada akhirnya, popularitas akar bajakah membuka pintu bagi eksplorasi lebih dalam tentang kearifan lokal Indonesia. Namun, menjaga sikap kritis dan berbasis bukti adalah langkah terbaik dalam menyikapi klaim kesehatan, termasuk yang berasal dari alam sekalipun.
