
Bisnis pengolahan akar bajakah di Kalimantan Selatan semakin meluas. Kondisi ini memicu kekhawatiran dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Selatan. Mereka menilai eksploitasi tanaman obat tradisional ini sudah berlebihan dan berpotensi mengancam kelestariannya.
Kekhawatiran Akan Eksploitasi Berlebihan
Menurut Walhi Kalsel, lonjakan permintaan pasar terhadap akar bajakah mendorong masyarakat untuk mengambilnya secara besar-besaran dari hutan. Padahal, tanaman ini membutuhkan waktu lama untuk tumbuh dan beregenerasi. Jika tidak dikelola dengan bijak, dikhawatirkan populasi bajakah akan menurun drastis dan bahkan punah di alam liar.
Mereka juga menyoroti praktik pemanenan yang tidak ramah lingkungan. Banyak oknum yang mencabut seluruh bagian tanaman, termasuk akar dan batangnya, tanpa menyisakan bibit untuk pertumbuhan kembali. Hal ini tentu akan merusak ekosistem hutan dan mengganggu keseimbangan alam.
Ancaman bagi Kelestarian dan Masyarakat Lokal
Eksploitasi berlebih tidak hanya mengancam kelestarian akar bajakah, tetapi juga kehidupan masyarakat lokal yang bergantung pada hutan. Tanaman ini selama ini menjadi sumber pengobatan tradisional dan mata pencaharian bagi sebagian warga. Jika terus dieksploitasi tanpa kendali, maka manfaat ekonomi dan kesehatan yang diperoleh pun akan hilang.
Walhi Kalsel mendesak pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah tegas. Beberapa rekomendasi yang diajukan antara lain:
- Menerbitkan aturan yang jelas tentang pemanenan akar bajakah, termasuk kuota dan zona larangan ambil.
- Melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya budidaya bajakah secara lestari.
- Mendorong riset dan pengembangan teknik budidaya agar pasokan dapat terpenuhi tanpa merusak alam.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan bisnis akar bajakah dapat terus berjalan tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
